Guru Terpencil
Oleh Azrul Rizki
SECARA keseluruhan sistem pendidikan
di Aceh sudah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun,
dalam hal kesetaraan masih ada perbedaan mencolok kualitas pendidikan di
daerah terpencil dengan kota di Aceh.
Secara kasar bisa kita
lihat pendidikan di kota lebih baik dari segi kemajuan teknologi dan
tenaga pendidik. Hal itu disebabkan perbedaan perhatian dari dinas dan
pemerintah yang hanya memfokuskan pendidikan di kota. Guru daerah
terpencil yang tertinggal secara materi pembelajaran dan teknologi
menyebabkan sebagian siswa yang rata-rata pengetahuannya hanya diperoleh
dari sang guru dominan tertinggal dari siswa di kota. Perbandingan itu
merupakan aspek yang harus diketahui oleh guru untuk mewujudkan
pendidikan yang berbasis teknologi menjadi sarana pembelajaran di
sekolah.Siswa daerah terpencil yang berlatarbelakang keluarga menengah
ke bawah secara otomatis tidak memiliki komputer untuk penunjang
pendidikan mereka. Sekolah-sekolah terpencil tidak memiliki ruang khusus
untuk mengajarkan komputer yang merupakan kebutuhan wajib sekarang di
dunia teknologi termasuk teknologi pembelajaran.Tugas guru daerah
terpencil sangat berat dibanding dengan guru kota. Sebagai contoh, SMA
di pusat kota menyaring semua siswa terbaik dari daerah-daerah terpencil
untuk masuk ke sekolah favorit di ibukota kabupaten. Dengan mengadakan
soal tes kelulusan dengan begitu ketat. Hanya yang terbaik dan dianggap
pandai yang bisa masuk ke sekolah favorit. Sedangkan di sekolah
terpencil hanya menerima siswa ‘buangan’ dari yang tidak lulus tes.
Kesimpulannya, guru di kota hanya mengajari siswa pandai untuk mengasah
otak mereka. Beban guru daerah terpencil yang dikatakan sulit harus
menghadapi siswa dengan kecerdasan sedikit kurang dari siswa kota.
Deskripsi pendidikan seperti inilah yang menyebabkan daerah terpencil terpuruk dari segi pendidikan. Daerah terpencil merupakan suatu wilayah di provinsi yang harus diperhatikan oleh dinas. Kesetaraan pembagian sarana baik komputer, LCD proyektor dan penataran terhadap guru-guru harus diseimbangkan dengan sekolah kota pada umumnya.
Penataran dan diklat yang dilakukan oleh dinas pendidikan selalu menekankan untuk pemanfaatan teknologi informasi. Di bidang itu, guru daerah terpencil masih ‘megap-megap’ dikarenakan awam terhadap komputer. Guru terpencil cenderung hanya menggunakan metode ceramah untuk mengajari siswa, berbeda dengan guru kota yang sering menerima pembaharuan dalam sistem mengajar karena mempelajari dari buku dan internet. Maka layak jika dikatakan guru di desa cenderung tertinggal daripada guru di kota.
Pendidikan berbasis teknologi sangat dibutuhkan di desa untuk kesetaraan dengan siswa di kota. Perbandingan yang selalu kita dengar sekarang selalu mengaitkan pendidikan antara desa terpencil dan kota, baik dari segi pengetahuan dan guru. Dalam PLPG yang diadakan oleh pemerintah untuk mencetak guru bersertifikat atau mempunyai keahlian dalam mengajar juga sering guru kota bisa menyombongkan diri karena mereka lebih mengetahui trik-trik baru untuk mengajar. Kita katakan dalam membuat RPP, guru di kota cenderung lebih bisa membuat dan menjabarkan SK dan KD untuk kesempurnaan rencana pembelajaran yang akan dicapai. Sedangkan untuk guru di desa, mereka jarang sekali menggunakan RPP selain hanya RPP pertahun. Maka lazim kita temui di tempat rental komputer para guru sertifikasi dari desa yang mengupah untuk mengetik atau membuat RPP.
Pihak Dinas Pendidikan harus benar-benar jeli untuk memandang kasus-kasus seperti itu untuk menyesuaikan pembelajaran bermutu bagi guru-guru. Guru di desa juga mempunyai hal khusus yang lebih sabar untuk mendidik dan melaksanakan pembelajaran. Pemahaman materi yang selalu memusatkan agar siswa bisa mencerna merupakan suatu keahlian yang menarik dari guru terpencil. Guru di kota juga mengajarkan demikian tapi lebih cenderung ada istilah ‘yang bisa bertambah bisa, yang kurang faham bertambah tertinggal’ dikarenakan melihat persentase siswa yang faham. Maka jika ada yang tak faham silahkan untuk tertinggal.
Hal utama yang harus dilakukan oleh dinas adalah membuat penataran di sekolah-sekolah terpencil berupa pendalaman pemahaman terhadap IPTEK dan sistem pembelajaran. Pembangunan ruang-ruang khusus untuk pembelajaran komputer dan tersedianya internet sebagai penunjang proses belajar di desa. Ada juga sekolah-sekolah di desa yang sudah mempunyai komputer tapi sangat minim yang mengoperasikan dikarenakan tenaga ahli di sekolah itu sangat kurang. Seminar-seminar berwawasan pendidikan adalah hal yang selalu dibutuhkan oleh guru di desa untuk memanfaatkan sarana yang sudah ada dan mencetak siswa berwawasan IPTEK dan lebih berpengalaman jika ia bekerja dan bersaing di kota.
Terlepas dari semua hal itu, dinas sudah membuat gebrakan baru bagi daerah terpencil dengan mendatangkan 301 siswa lulusan SMA terpencil di seluruh kabupaten/kota pada awal tahun 2009 silam untuk belajar dan mendapat beasiswa penuh dari Komisi Beasiswa Aceh. Harapan adanya penyetaraan bagi pendidikan di desa merupakan harapan semua siswa dan guru-guru terpencil yang mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa.
Semoga ke depan, sekolah di desa menjadi unggulan dan lebih bisa bersaing dengan pendidikan kota baik dari segi pengetahuan dan kecukupan sarana pembelajaran.
Deskripsi pendidikan seperti inilah yang menyebabkan daerah terpencil terpuruk dari segi pendidikan. Daerah terpencil merupakan suatu wilayah di provinsi yang harus diperhatikan oleh dinas. Kesetaraan pembagian sarana baik komputer, LCD proyektor dan penataran terhadap guru-guru harus diseimbangkan dengan sekolah kota pada umumnya.
Penataran dan diklat yang dilakukan oleh dinas pendidikan selalu menekankan untuk pemanfaatan teknologi informasi. Di bidang itu, guru daerah terpencil masih ‘megap-megap’ dikarenakan awam terhadap komputer. Guru terpencil cenderung hanya menggunakan metode ceramah untuk mengajari siswa, berbeda dengan guru kota yang sering menerima pembaharuan dalam sistem mengajar karena mempelajari dari buku dan internet. Maka layak jika dikatakan guru di desa cenderung tertinggal daripada guru di kota.
Pendidikan berbasis teknologi sangat dibutuhkan di desa untuk kesetaraan dengan siswa di kota. Perbandingan yang selalu kita dengar sekarang selalu mengaitkan pendidikan antara desa terpencil dan kota, baik dari segi pengetahuan dan guru. Dalam PLPG yang diadakan oleh pemerintah untuk mencetak guru bersertifikat atau mempunyai keahlian dalam mengajar juga sering guru kota bisa menyombongkan diri karena mereka lebih mengetahui trik-trik baru untuk mengajar. Kita katakan dalam membuat RPP, guru di kota cenderung lebih bisa membuat dan menjabarkan SK dan KD untuk kesempurnaan rencana pembelajaran yang akan dicapai. Sedangkan untuk guru di desa, mereka jarang sekali menggunakan RPP selain hanya RPP pertahun. Maka lazim kita temui di tempat rental komputer para guru sertifikasi dari desa yang mengupah untuk mengetik atau membuat RPP.
Pihak Dinas Pendidikan harus benar-benar jeli untuk memandang kasus-kasus seperti itu untuk menyesuaikan pembelajaran bermutu bagi guru-guru. Guru di desa juga mempunyai hal khusus yang lebih sabar untuk mendidik dan melaksanakan pembelajaran. Pemahaman materi yang selalu memusatkan agar siswa bisa mencerna merupakan suatu keahlian yang menarik dari guru terpencil. Guru di kota juga mengajarkan demikian tapi lebih cenderung ada istilah ‘yang bisa bertambah bisa, yang kurang faham bertambah tertinggal’ dikarenakan melihat persentase siswa yang faham. Maka jika ada yang tak faham silahkan untuk tertinggal.
Hal utama yang harus dilakukan oleh dinas adalah membuat penataran di sekolah-sekolah terpencil berupa pendalaman pemahaman terhadap IPTEK dan sistem pembelajaran. Pembangunan ruang-ruang khusus untuk pembelajaran komputer dan tersedianya internet sebagai penunjang proses belajar di desa. Ada juga sekolah-sekolah di desa yang sudah mempunyai komputer tapi sangat minim yang mengoperasikan dikarenakan tenaga ahli di sekolah itu sangat kurang. Seminar-seminar berwawasan pendidikan adalah hal yang selalu dibutuhkan oleh guru di desa untuk memanfaatkan sarana yang sudah ada dan mencetak siswa berwawasan IPTEK dan lebih berpengalaman jika ia bekerja dan bersaing di kota.
Terlepas dari semua hal itu, dinas sudah membuat gebrakan baru bagi daerah terpencil dengan mendatangkan 301 siswa lulusan SMA terpencil di seluruh kabupaten/kota pada awal tahun 2009 silam untuk belajar dan mendapat beasiswa penuh dari Komisi Beasiswa Aceh. Harapan adanya penyetaraan bagi pendidikan di desa merupakan harapan semua siswa dan guru-guru terpencil yang mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa.
Semoga ke depan, sekolah di desa menjadi unggulan dan lebih bisa bersaing dengan pendidikan kota baik dari segi pengetahuan dan kecukupan sarana pembelajaran.



