Sabtu, 16 Agustus 2014

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-69

Wahai Bung Karno Presiden Kami.
Lelapkah tidur abadimu
Melihat. .
Keadaan Negerimu saat ini.
Tanamkan Jiwa
Kepemimpinanmu... Lihat Selengkapnya
Foto: Wahai Bung Karno Presiden Kami.
Lelapkah tidur abadimu
Melihat. . 
Keadaan Negerimu saat ini.
Tanamkan Jiwa
Kepemimpinanmu
Kepada Pemimpin baru
Kami Nantinya
#Dirgahayu Republik Indonesia Ke-69

Senin, 01 April 2013

Praktek Senam SMA Negeri 1 Banggai Kelas XII IPS 2


Slesai Praktek Senam Nak SMA Negeri 1 Banggai Kelas XII IPS 2...
Kostumnya krennn khan....???
udah kaya Brimob ajja....
nhe hanya sbagian ajja....

Rabu, 05 Desember 2012

Extended Banggai

Extended adalah nama sebuah kumpulan anak-anak yang cinta perdamain yang berada di Banggai Kepulauan, tepatnya di Jln Baru.
perkumpulan ini mulai terbentuk pada tanggal 01 September 2012
dan perkumpulan ini dipimpin diketuai oleh seseorang yang bernama Moh.sutra yang biasa disapa dengan nama Utra'
inilah Foto saat-saat kami bersama

berikut nama-nama anggota Extended:

Extended Mouge
Extended Cez_One
Extended Arfat & Nahda
Extended Rulan
Extended Rusly
Extended Utra'

Extended Regal

Extended Utra'

Extended Alldhy

Inilah Video aksi Extended Utra'

Jumat, 06 Juli 2012

Sabtu, 09 Juni 2012

Guru Terpencil


Guru Terpencil

[Serambi Indonesia, 26 November 2011]
Oleh Azrul Rizki
SECARA keseluruhan sistem pendidikan di Aceh sudah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, dalam hal kesetaraan masih ada perbedaan mencolok kualitas pendidikan di daerah terpencil dengan kota di Aceh.
Secara kasar bisa kita lihat pendidikan di kota lebih baik dari segi kemajuan teknologi dan tenaga pendidik. Hal itu disebabkan perbedaan perhatian dari dinas dan pemerintah yang hanya memfokuskan pendidikan di kota. Guru daerah terpencil yang tertinggal secara materi pembelajaran dan teknologi menyebabkan sebagian siswa yang rata-rata pengetahuannya hanya diperoleh dari sang guru dominan tertinggal dari siswa di kota. Perbandingan itu merupakan aspek yang harus diketahui oleh guru untuk mewujudkan pendidikan yang berbasis teknologi menjadi sarana pembelajaran di sekolah.Siswa daerah terpencil yang berlatarbelakang keluarga menengah ke bawah secara otomatis tidak memiliki komputer untuk penunjang pendidikan mereka. Sekolah-sekolah terpencil tidak memiliki ruang khusus untuk mengajarkan komputer yang merupakan kebutuhan wajib sekarang di dunia teknologi termasuk teknologi pembelajaran.Tugas guru daerah terpencil sangat berat dibanding dengan guru kota. Sebagai contoh, SMA di pusat kota menyaring semua siswa terbaik dari daerah-daerah terpencil untuk masuk ke sekolah favorit di ibukota kabupaten. Dengan mengadakan soal tes kelulusan dengan begitu ketat. Hanya yang terbaik dan dianggap pandai yang bisa masuk ke sekolah favorit. Sedangkan di sekolah terpencil hanya menerima siswa ‘buangan’ dari yang tidak lulus tes. Kesimpulannya, guru di kota hanya mengajari siswa pandai untuk mengasah otak mereka. Beban guru daerah terpencil yang dikatakan sulit harus menghadapi siswa dengan kecerdasan sedikit kurang dari siswa kota.
Deskripsi pendidikan seperti inilah yang menyebabkan daerah terpencil terpuruk dari segi pendidikan. Daerah terpencil merupakan suatu wilayah di provinsi yang harus diperhatikan oleh dinas. Kesetaraan pembagian sarana baik komputer, LCD proyektor dan penataran terhadap guru-guru harus diseimbangkan dengan sekolah kota pada umumnya.
Penataran dan diklat yang dilakukan oleh dinas pendidikan selalu menekankan untuk pemanfaatan teknologi informasi. Di bidang itu, guru daerah terpencil masih ‘megap-megap’ dikarenakan awam terhadap komputer. Guru terpencil cenderung hanya menggunakan metode ceramah untuk mengajari siswa, berbeda dengan guru kota yang sering menerima pembaharuan dalam sistem mengajar karena mempelajari dari buku dan internet. Maka layak jika dikatakan guru di desa cenderung tertinggal daripada guru di kota.
Pendidikan berbasis teknologi sangat dibutuhkan di desa untuk kesetaraan dengan siswa di kota. Perbandingan yang selalu kita dengar sekarang selalu mengaitkan pendidikan antara desa terpencil dan kota, baik dari segi pengetahuan dan guru. Dalam PLPG yang diadakan oleh pemerintah untuk mencetak guru bersertifikat atau mempunyai keahlian dalam mengajar juga sering guru kota bisa menyombongkan diri karena mereka lebih mengetahui trik-trik baru untuk mengajar. Kita katakan dalam membuat RPP, guru di kota cenderung lebih bisa membuat dan menjabarkan SK dan KD untuk kesempurnaan rencana pembelajaran yang akan dicapai. Sedangkan untuk guru di desa, mereka jarang sekali menggunakan RPP selain hanya RPP pertahun. Maka lazim kita temui di tempat rental komputer para guru sertifikasi dari desa yang mengupah untuk mengetik atau membuat RPP.
Pihak Dinas Pendidikan harus benar-benar jeli untuk memandang kasus-kasus seperti itu untuk menyesuaikan pembelajaran bermutu bagi guru-guru. Guru di desa juga mempunyai hal khusus yang lebih sabar untuk mendidik dan melaksanakan pembelajaran. Pemahaman materi yang selalu memusatkan agar siswa bisa mencerna merupakan suatu keahlian yang menarik dari guru terpencil. Guru di kota juga mengajarkan demikian tapi lebih cenderung ada istilah ‘yang bisa bertambah bisa, yang kurang faham bertambah tertinggal’ dikarenakan melihat persentase siswa yang faham. Maka jika ada yang tak faham silahkan untuk tertinggal.
Hal utama yang harus dilakukan oleh dinas adalah membuat penataran di sekolah-sekolah terpencil berupa pendalaman pemahaman terhadap IPTEK dan sistem pembelajaran. Pembangunan ruang-ruang khusus untuk pembelajaran komputer dan tersedianya internet sebagai penunjang proses belajar di desa. Ada juga sekolah-sekolah di desa yang sudah mempunyai komputer tapi sangat minim yang mengoperasikan dikarenakan tenaga ahli di sekolah itu sangat kurang. Seminar-seminar berwawasan pendidikan adalah hal yang selalu dibutuhkan oleh guru di desa untuk memanfaatkan sarana yang sudah ada dan mencetak siswa berwawasan IPTEK dan lebih berpengalaman jika ia bekerja dan bersaing di kota.
Terlepas dari semua hal itu, dinas sudah membuat gebrakan baru bagi daerah terpencil dengan mendatangkan 301 siswa lulusan SMA terpencil di seluruh kabupaten/kota pada awal tahun 2009 silam untuk belajar dan mendapat beasiswa penuh dari Komisi Beasiswa Aceh. Harapan adanya penyetaraan bagi pendidikan di desa merupakan harapan semua siswa dan guru-guru terpencil yang mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa.
Semoga ke depan, sekolah di desa menjadi unggulan dan lebih bisa bersaing dengan pendidikan kota baik dari segi pengetahuan dan kecukupan sarana pembelajaran.

Guru Melimpah di Pusat Kota, Minim di Desa TerpenciL


BANDUNG, (PRLM).- Meski jumlah guru di pusat-pusat kota melimpah sedangkan di desa-desa terpencil kekurangan guru, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tidak memiliki kewenangan pemerataan guru. Di lain pihak, kesadaran guru untuk mengabdi di daerah masih rendah. Aturan waktu mengajar minimal 24 jam per pekan yang menjadi bagian program Sertifikasi Guru diharapkan bisa menciptakan pemerataan secara alami.
“Di kota-kota besar seperti Bandung, para guru kekurangan kelas sehingga terjadi rebutan jam mengajar, tapi di daerah-daerah, ada ribuan sekolah yang kekurangan guru. Ironisnya, dalam sistem otonomi sekarang, kami tidak bisa berbuat banyak dalam hal pemerataan guru,” kata Kadisdik Jabar Wachyudin Zarkasyi di Bandung, Selasa (20/3/12).
Menurut Wachyudin, pemerataan guru nantinya akan terjadi secara alami lewat program Sertifikasi Guru yang mencakup keharusan bagi para guru memiliki waktu mengajar tatap muka minimal 24 jam per pekan. “Sekarang saja saat baru 30-an persen guru sudah tersertifikasi, sudah terjadi rebutan jam mengajar di kota-kota besar. Apalagi nanti jika sertifikasi ditargetkan tuntas pada 2015. Ini berarti, di beberapa kota, jumlah guru memang sudah terlalu banyak,” tuturnya.
Sebelumnya, gejala saling berebut jam mengajar di sekolah disuarakan, salah satunya, oleh para guru honorer di Kota Bandung yang terwadahi dalam Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH). Mereka mengeluhkan adanya penyingkiran guru honorer di beberapa sekolah oleh para guru PNS yang mengejar jam mengajar minimal. “Gejalanya mulai sejak tahun lalu dan semakin terasa sekarang,” ujar Ketua FKGH Kota Bandung Yanyan

Kebudayaan Sungai Kuning.Masyarakat Cina kuno


Kebudayaan

Tembok Besar Cina, salah satu hasil kebudayaan Sungai Kuning.
Masyarakat Cina kuno telah mengenal tulisan sejak 1500 SM yang ditulis pada kulit penyu atau bambu[4]. Pada awalnya huruf Cina yang dibuat sangat sederhana, yaitu satu lambang untuk satu pengertian. Pada masa pemerintahan Dinasti Han, seni sastra Cina kuno berkembang pesat seiring dengan ditemukannya kertas.[4] Ajaran Lao Zi, Kong Fu Zi, dan Meng Zi banyak dibukukan baik oleh filsuf itu sendiri maupun para pengikutnya.[3] Pada masa pemerintahan Dinasti Tang, hidup dua orang pujangga terkemuka yang banyak menulis puisi kuno, yaitu Li Tai Po dan Tu Fu.[4] Selain berupa sastra, kebudayaan Cina yang muncul dan berkembang di lembah Sungai Kuning adalah seni lukis, keramik, kuil, dan istana.[4] Perkembangan seni lukis terlihat dari banyaknya lukisan hasil karya tokoh ternama yang menghiasi istana dan kuil.[5] Lukisan yang dipajang umumnya berupa lukisan alam semesta, lukisan dewa-dewa, dan lukisan raja yang pernah memerintah.[5] Keramik Cina merupakan hasil kebudayaan rakyat yang bernilai sangat tinggi dan menjadi salah satu komoditi perdagangan saat itu.[4] Rakyar Cina menganggap bahwa kaisar atau raja merupakan penjelmaan dewa sehingga istana untuk sang raja dibangun dengan indah dan megah.[5] Hasil kebudayaan Cina yang sangat terkenal hingga saat ini adalah Tembok Besar Cina yang dibangun pada masa Dinasti Qin untuk menangkal serangan dari musuh di bagian utara Cina.[6] Kaisar Qin Shi Huang menghubungkan dinding-dinding pertahanan yang telah dibangun tersebut menjadi tembok raksasa dengan sepanjang 7000 km.[6]